Perempuan, berkaryalah!

21 April adalah harinya perempuan (atau wanita, yang mana yang anda sreg saja). secara kebetulan, hari ini saya ingin menuliskan pendapat mengenai perempuan. kenapa? karena saya juga perempuan.

Perempuan Indonesia,

Figur yang memiliki banyak peran.

Perempuan sebagai ibu, Perempuan sebagai teman baik, Perempuan sebagai pekerja, Perempuan sebagai anak, Perempuan sebagai partner, Perempuan sebagai istri, Perempuan sebagai orang tua tunggal, Perempuan sebagai menantu, Perempuan sebagai kepala keluarga, Perempuan sebagai pencari nafkah.

Dengan sekian banyak peran yang dimainkan oleh perempuan, perempuan layak mendapatkan apresiasi. Apresiasi terhadap perempuan terus tumbuh dari masa ke masa, tapi tetap saja apresiasi tersebut masih digaungkan… karena masih kurang. Maaf tidak kongkrit tapi apresiasi (1 kata ini saja) mengandung segudang makna (atau penulis tidak mau repot menuliskan sekian banyak maknanya hehe).

Dari beberapa perspektif, perempuan kurang terapresiasi karena perempuan tidak memposisikan dirinya sebagai yang layak terapresiasi. perempuan sering cepat puas dengan apa yang sudah didapat.

Bagi sebagian perempuan, gaji 4 juta/bulan yang penting cukup untuk fashion dan makan di restoran mahal. Bagi sebagian perempuan, tidak melanjutkan pendidikan lebih tinggi pun tidak masalah, walaupun ada kesempatan. Bagi sebagian perempuan, yang penting bisa mengurus suami sudah cukup. Bagi sebagian perempuan, yang penting bisa kerja kantoran tidak usah jadi bos juga tidak apa-apa. Bagi sebagian perempuan, menerima amplop gaji dari suami saja sudah cukup walaupun dikasih kesempatan bekerja.

Selama ini perempuan selalu dibandingkan dengan laki-laki dalam banyak aspek terutama di dunia kerja. Perempuan dinilai terlalu emosional dalam mengambil keputusan. Perempuan dinilai terlalu cengeng saat menghadapi masalah. Perempuan dinilai tidak layak menaiki jenjang lebih tinggi.

Saya akan bilang, kenapa mesti dibandingkan!!

Jangan bandingkan perempuan dengan laki-laki, sejak awal memang sudah beda. Yang bisa membandingkan seorang perempuan hanyalah perempuan lainnya. Ambillah satu figur perempuan yang anda hormati, dan jadikan sebagai penyemangat anda, dan upgrade diri anda ke arah yang lebih baik. Jaman sekarang, banyak kesempatan tersia-siakan oleh perempuan karena perempuan sendiri yang membatasi pengembangan dirinya. Jangan takut kalah saingan dengan laki-laki. Takutlah kalah bersaing dengan perempuan lain.

Tentukan target diri yang lebih tinggi, bekerja keras, dan berkarya.

Anda hanya pembantu rumah tangga? Jangan kecil hati. Apa hal terbaik yang bisa dilakukan seorang pembantu rumah tangga? (misalnya) terus belajar resep makanan nusantara (lumayan kan kalau bisa buka warung nasi kalau sudah tidak bekerja).

Anda hanya Ibu rumah tangga ? Jangan kecil hati. Ibu rumah tangga adalah profesi paling menyenangkan dan bisa dibilang paling fleksibel. Waktu tersedia untuk anda manfaatkan penuh,selain mengurus anak dan suami. your biggest advantage is that you can do anything that support your family while still can take care of your family.

Anda perempuan pekerja kantoran yang karirnya mandeg? Jangan kecil hati. Banyak hal yang bisa dilakukan seseorang saat menempati posisi non-manajerial. Coba saja ikut les atau training atau short course atau apapun yang anda sukai untuk menambah pengetahuan.

Poin saya adalah perempuan Indonesia jangan cepat puas dengan diri anda, teruslah menimba ilmu, teruslah menjadi lebih baik karena kita berhak mendapat yang terbai.

Perempuan, berkaryalah!

-Author-

Advertisements

Kebersihan adalah sebagian dari iman.. tapi imannya siapa?

Saya butuh waktu cukup lama untuk melontarkan topik ini, karena memikirkan banyak orang yang akan tersinggung. Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi saya bisa mengeluarkan uneg-uneg di kepala saya?

Saya dibesarkan dengan ajaran agama Islam, dan sejak kecil sudah diajarkan Hadits ” Kebersihan adalah sebagian dari Iman”. Pelajaran agama mengenai ini selalu diulang-ulang dari mulai SD, SMP, SMU (bahkan waktu di kampus). Buat saya sih, Hadits ini ngelotok banget di pikiran saya. Terlebih lagi saya melihat contoh mama saya yang tidak pernah buang sampah sembarangan dan selalu membawa kantong plastik dalam tas kerjanya. Bagi saya, itupun salah satu perilaku menjaga kebersihan.

Kemudian waktu SD sampai SMU, saya terlempar di lingkungan orang yang sangat tidak senang menjaga kebersihan. Sebut saja, sesama penumpang di angkot/bis kota yang makan siomay setelah itu membuang bungkusnya ke luar jendela bis atau di bawah kakinya, atau teman yang merokok dengan gayanya yang selangit lalu mematikan/menginjak puntung rokok dengan kakinya, atau malah guru PPKn yang di suatu hari yang cerah saat Dharmawisata membuang sampah ke kali di depan mata saya. Duh, what’s wrong with you people?

Masih contoh ekstrimnya adalah teman-teman saya yang aktif dalam kegiatan rohani. Orang-orang yang secara normative lebih rajin ibadah dan membaca kitab suci, mereka juga sering mendengarkan ceramah agama dan selalu membasahi mulutnya dengan kalimat-kalimat Illahi. Intinya adalah orang-orang yang saya sangat hormati dari segi pengetahuan agama. tapi di suatu kesempatan saya sedang kongkow dengan mereka, lagi-lagi saya menemukan mereka membuang sampah sembarangan di jalan. Akh! saya kesal.

Orang-orang sering sekali menasihati saya mengenai agama, tentu saja saya dengan senang hati selalu mendengarkan.  Tapi please deh.. aplikasi perilakunya hanya sebatas ibadah buat diri sendiri sajakah? Memangnya dalam ajaran kita (bukan terbatas pada Islam saja, agama lainnya juga) manusia diajarkan untuk Hanya mementingkan dirinya sendiri? Saya paham sekali bahwa Surga itu adalah reward terbesar yang Tuhan berikan bagi manusia yang berhasil menjalani segala perintahnya. Namun saya juga sadar, orang yang condong hanya rajin ibadah/baca kitab suci tapi lupa bahwa dirinya juga berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan alam itu sama tidak baiknya.

Okay here goes my blabbering.

Saya hidup di Jakarta. Kota yang saya cinta dan benci dengan persentase masing 100%. Cinta karena saya lahir disini dan banyak memori indah yang terekam di benak saya. Benci karena semakin lama manusia yang tinggal di jakarta tidak jelas perilakunya. Sekarang saya tanya : Kebersihan adalah Sebagian dari Iman.. (semua orang di Jakarta pasti beriman dong), tapi imannya siapa?

Apakah tukang sampah yang digaji oleh dinas kebersihan DKI JKT untuk menyapu sekitar jalan protokol?

Apakah cleaning service gedung yang tiap 20menit sekali membuang sampah tisu toilet di wc wanita?

Apakah orang yang bekerja di kementrian Lingkungan Hidup karena tuntutan kerjanya dia harus ramah lingkungan?

Apakah petugas di pintu air manggarai yang sebelum musim hujan tiba harus menyerok sampah yang berkumpul di dekat saluran air?

Ternyata spesifik sekali orang-orang yang beriman.

Dulu pernah ada seorang teman yang sedang naik angkot bersama saya, kemudian setelah turun dia membuang sampah plastik bekas makanannya di depan saya. Saya kaget dan langsung menyuruhnya untuk mengambilnya. Reaksi beliau adalah menolak kemudian bete selama beberapa saat dengan saya. Saya tidak terlalu peduli dengan hal itu. Yang penting misi menjaga lingkungan bisa tercapai. Di lain kesempatan, 1 tahun setelahnya, dia mengajak bicara ” Res, dulu waktu lu marahin gue gara-gara gue buang sampah di jalan itu tuh… setelahnya ada orang yang buang sampah depan gue.. ga tau kenapa gue jadi bete juga.. sorry ya waktu itu gue bete ma lu”. Baguslah kalau memang sadar.

Tapi sebenarnya saya malas beralih peran jadi polisi lingkungan. Wong kita belajar agama kan buat diaplikasiin juga. Masa’ yang gitu aja masih perlu didiktein? Lalu saya ngomong begini ke dia ” Gue lebih bete kalau gara-gara sampah yang kita buang di jalan, terus nyumbat saluran, terus jakarta jadi banjir, terus rumah gue tergenang air, abis itu gue mesti nyerok-nyerok air, ngepel rumah yang notabene baunya minta ampun.. gila.. males banget ga sih?”

Hahaha.. salah ga argumen saya?

for everybody out there … (literally everybody, termasuk orang bermobil mercedes yang masih juga nyampah di jalan) kalau kamu tidak beriman pada Tuhan YMK, silahkan untuk membuat kekacauan dan kekotoran di dunia ini. Masih banyak tempat yang perlu dikotorin biar merata.

Buat kawan-kawan yang beriman/merasa dirinya beriman, tolong jaga kebersihan bukan cuma buat diri sendiri, tapi buat orang lain juga. mungkin kalian pernah nyampah/bakar sampah atau apapun yang tidak earth-friendly di kota lain, tapi jangan pernah pikir bahwa yang kotor cuma area kalian saja. Bumi sudah masuk siaga satu. Ibarat pasien, “mesti masuk ICU”.

Mohon dikaji ulang apakah ajaran agama menghendaki kita untuk berbuat jahat pada alam. Tapi saya tidak akan berceramah, karena ceramah itu tugasnya ahli agama. Untuk lebih jelasnya tanya guru agama masing-masing. Saran dari saya sebagai orang yang pernah belajar Psikologi : “Experience is the best teacher “, jadi coba saja kita tinggal 2 hari di Bantar Gebang atau Leuwigajah. Zaman dulu gas metana akibat reaksi kimia dari sampah-sampah itu pernah meledak, dan membuat longsoran sampah. Akibatnya banyak orang yang tewas.  Apa enaknya meninggal ditimbun sampah?

but then again, kita selalu berkilah (dalam hati tentunya) “Itu terjadi pada mereka, tapi ga mungkin terjadi sama gue”.

Yah.. emang dasarnya kalau ga sadar ya udah.. tapi kalau rumah gue kebanjiran, tolong pel-in yeee..

-Curhat jam 17.18-