Hidup Sehat itu (Mungkin) Mudah

Saya sering bingung bila ditanya oleh seorang teman- “Res, lu punya resep makanan sehat ga? kayaknya makananlu sehat banget” -, karena saya tidak punya resep yang spesifik sehat.. (sehat dalam artian segala takarannya sesuai ahli gizi atau dokter). Makanan saya cenderung “membosankan”. Alasan saya hidup sehat juga bukan karena ikut trend dietnya artis hollywood…

karena..

ngirit

Yup.. karena saya dituntut harus belajar me-menej keuangan. Anggaran belanja saya tidak besar, oleh karena itu waktu awal-awal menikah, makan di luar (dine-out) atau beli makanan (take-away) frekuensinya sangat sedikit. Alhasil saya harus memasak sendiri.

Lalu, karena saya bekerja dan setiap hari harus mengejar kereta pagi tapi tetap ingin memasak.. saya putuskan saya harus selesai masak semuanya dalam kurang dari 1 jam (ini juga dengan terburu-buru dan hectic). Jadilah saya browsing resep-resep makanan yang proses masaknya kurang dari 15 menit.

Kebanyakan menu yang simple dan enak bukan menu lokal. Kadang chinese food kadang western, yang pasti menyiapkannya tidak susah. Mau lebih gampang lagi? Tinggal kukus atau rebus atau makan mentah ala salad. Saya lakukan ini kalau malas masak hehe..

Sebenarnya hidup sehat tidak susah tho?

Advertisements

Info mengenai Pendidikan dasar dan menengah

Artikel menarik mengenai pendidikan dasar dan menengah di kompas cetak, 9 Juni 2012 hal. 12 “Siswa Miskin Enggan Pilih RSBI”.

Siswa miskin dengan prestasi baik cenderung menghindari sekolah berlabel Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).Meski ada kewajiban sekolah RSBI menerima minimal 20 persen siswa berprestasi, ini tak banyak dimanfaatkan keluarga miskin.

Kajian Forum Musyawarah Guru Jakarta,misalnya, yang menyurvei siswa SMP di Jakarta, menemukan kecendrungan mereka takut mendaftar SMA/SMK RSBI. Alasannya,
1. Khawatir tidak sanggup membayar.

Kalaupun mendapat keringanan pembayaran iuran peserta didik baru atau sumbangan awal tahun, tetap ada kekhawatiran tak dapat membayar uang bulanan.

2. Takut diharuskan mempunyai laptop.
Ada juga takut bergaul dengan siswa dari keluargs kaya serta rendah diri.
Menurut Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru, Retno Listyarti,
Memaksakan siswa miskin masuk ke lingkungan sekolah yang secara ekonomi dan sosial berbeda bisa menimbulkan masalah psikososiologis.

Informasi dari beberapa daerah, kuota 20 persen untuk siswa miskin belum terpenuhi. Umumnya, alasan biaya masih menjadi penghalang siswa
miskin berprestasi memburu sekolah RSBI.

Seorang pelatih guru mengatakan tak jelas standar kualitas lulusan yang ingin dihasilkan lewat RSBI. Kemajuan sekolah RSBI pun tidsk signifikan karena dari dulu sekolah yang dijadikan RSBI sudah sekolah unggulan.

Secara terpisah, Kepala SMPN 1 Kota Magelang mengatakan bahwa tak semua RSBI mengutamakan kemampuan membayar siswa dalam penerimaan siswa baru. Di sekolahnya, pendaftaran terbuka bagi semua lapisan masyarakat karena biaya terjangkau. Di sekolah itu, 30 persen siswa dibebaskan dari kewajiban membayar. Siswa lain yang tidak mampu membayar seikhlasnya. Sebab, sekolah ini mendapat dukungan dana dari pemerintah pusat Rp 100 juta dan pemerintah provinsi Rp 400 juta. Jika mengandalkan BOS sulit sebab jumlah siswa di satu kelas sedikit.

Keberadaan RSBI mendapat gugatan orangtua, organisasi guru, serta praktisi dan pengamat pendidikan yang tergabung pada Anti Komersialisasi Pendidikan. Mereka mengajukan judicial review di Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 50 ayat 3 UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi landasan hukum sekitar 1.300 RSBI jenjang SD-SMA.

Wahyu Wagiman, kuasa hukum Anti Komersialisasi Pendidikan, mengatakan, secara norma dan implementasi, RSBI/SBI dinilai bermasalah karena mengakibatkan kerugian konstitusional masyarakat.

Sekian penulisan ulang artikel diatas.
Author is open for discussion.

-sunday is a good day to rethink about our life progress-

Perempuan, berkaryalah!

21 April adalah harinya perempuan (atau wanita, yang mana yang anda sreg saja). secara kebetulan, hari ini saya ingin menuliskan pendapat mengenai perempuan. kenapa? karena saya juga perempuan.

Perempuan Indonesia,

Figur yang memiliki banyak peran.

Perempuan sebagai ibu, Perempuan sebagai teman baik, Perempuan sebagai pekerja, Perempuan sebagai anak, Perempuan sebagai partner, Perempuan sebagai istri, Perempuan sebagai orang tua tunggal, Perempuan sebagai menantu, Perempuan sebagai kepala keluarga, Perempuan sebagai pencari nafkah.

Dengan sekian banyak peran yang dimainkan oleh perempuan, perempuan layak mendapatkan apresiasi. Apresiasi terhadap perempuan terus tumbuh dari masa ke masa, tapi tetap saja apresiasi tersebut masih digaungkan… karena masih kurang. Maaf tidak kongkrit tapi apresiasi (1 kata ini saja) mengandung segudang makna (atau penulis tidak mau repot menuliskan sekian banyak maknanya hehe).

Dari beberapa perspektif, perempuan kurang terapresiasi karena perempuan tidak memposisikan dirinya sebagai yang layak terapresiasi. perempuan sering cepat puas dengan apa yang sudah didapat.

Bagi sebagian perempuan, gaji 4 juta/bulan yang penting cukup untuk fashion dan makan di restoran mahal. Bagi sebagian perempuan, tidak melanjutkan pendidikan lebih tinggi pun tidak masalah, walaupun ada kesempatan. Bagi sebagian perempuan, yang penting bisa mengurus suami sudah cukup. Bagi sebagian perempuan, yang penting bisa kerja kantoran tidak usah jadi bos juga tidak apa-apa. Bagi sebagian perempuan, menerima amplop gaji dari suami saja sudah cukup walaupun dikasih kesempatan bekerja.

Selama ini perempuan selalu dibandingkan dengan laki-laki dalam banyak aspek terutama di dunia kerja. Perempuan dinilai terlalu emosional dalam mengambil keputusan. Perempuan dinilai terlalu cengeng saat menghadapi masalah. Perempuan dinilai tidak layak menaiki jenjang lebih tinggi.

Saya akan bilang, kenapa mesti dibandingkan!!

Jangan bandingkan perempuan dengan laki-laki, sejak awal memang sudah beda. Yang bisa membandingkan seorang perempuan hanyalah perempuan lainnya. Ambillah satu figur perempuan yang anda hormati, dan jadikan sebagai penyemangat anda, dan upgrade diri anda ke arah yang lebih baik. Jaman sekarang, banyak kesempatan tersia-siakan oleh perempuan karena perempuan sendiri yang membatasi pengembangan dirinya. Jangan takut kalah saingan dengan laki-laki. Takutlah kalah bersaing dengan perempuan lain.

Tentukan target diri yang lebih tinggi, bekerja keras, dan berkarya.

Anda hanya pembantu rumah tangga? Jangan kecil hati. Apa hal terbaik yang bisa dilakukan seorang pembantu rumah tangga? (misalnya) terus belajar resep makanan nusantara (lumayan kan kalau bisa buka warung nasi kalau sudah tidak bekerja).

Anda hanya Ibu rumah tangga ? Jangan kecil hati. Ibu rumah tangga adalah profesi paling menyenangkan dan bisa dibilang paling fleksibel. Waktu tersedia untuk anda manfaatkan penuh,selain mengurus anak dan suami. your biggest advantage is that you can do anything that support your family while still can take care of your family.

Anda perempuan pekerja kantoran yang karirnya mandeg? Jangan kecil hati. Banyak hal yang bisa dilakukan seseorang saat menempati posisi non-manajerial. Coba saja ikut les atau training atau short course atau apapun yang anda sukai untuk menambah pengetahuan.

Poin saya adalah perempuan Indonesia jangan cepat puas dengan diri anda, teruslah menimba ilmu, teruslah menjadi lebih baik karena kita berhak mendapat yang terbai.

Perempuan, berkaryalah!

-Author-

Hati-Hati Modus Penipuan ini!

Mendekati Hari Lebaran, Nampaknya akan banyak modus penipuan dan perampokan yang terjadi di sekitar kita. Seperti barusan 15 menit yang berlalu, Bapak Mertuaku ditelpon oleh seseorang yang mengatakan bahwanya anaknya (suamiku) mengalami kecelakaan. Masalahnya dia juga menyebut nama saya dengan benar (OMG). Untungnya orang itu belum selesai bicara, telponnya langsung dimatikan oleh bapak mertua. Alhasil mama mertua panik dan menelpon ke orang rumah di Jakarta untuk mengecek apakah kabar tersebut benar. Ya tentu saja tidak. Tapi anyway, ini modus penipuan yang sangat sangat menyebalkan!!

Saya kemudian cek kabar ini dengan nyokap, dan katanya sekumpulan orang-orang ini (kita sebut saja sindikat) bisa tahu profile keluarga kita. Hati-hati lho! apalagi disaat lengah, kadang-kadang mereka menelpon pasangan kita dan mengatakan suatu kebohongan yang konteksnya mengadu domba kita, Astagfirullah! Atau berbohong soal keluarga kita yang (kebetulan) sedang keluar kota, dan meminta sejumlah uang untuk ditransfer.

Kisah nyatanya terjadi di salah satu karyawan kantor nyokap, yang saya akan ceritakan kembali :

Orang ini menelpon ke nyokap yang mengatakan bahwa direktur utama butuh sejumlah uang untuk membiayai pelatihan (caution : orang yang menelpon biasanya sangat meyakinkan, dan sepertinya memantau aktivitas perorangan personel rumah sakit, dan dalam hal ini kata nyokap gue, suaranya bisa sangat persis dengan kolega yang kita kenal). Kemudian nyokap bilang bahwa dia tidak bisa asal mentransfer tanpa approval salah satu direksi keuangan. singkat cerita, nyokap mengecek ke direksi keuangan apakah benar direktur utama sedang berada di X (dan ternyata memang benar!) dan uang tersebut ditransfer. Loss : 40 million Rupiah.

Anyway, bila anda/kerabat/saudara/pasangan anda mendengar orang yang terkena musibah ini, things to do:

1) Selalu Cross-Check ke orang-orang terdekat kita. Misalnya pasangan kita lagi diluar kota, dan kebetulan sinyal hpnya jelek dan tidak bisa dihubungi, lalu kita ditelpon oleh sindikat ini bahwa pasangan kita kecelakaan. Jangan langsung percaya. Hubungi semua possible number : telpon kantor, telpon hotel tempat menginap, telpon orang yang berangkat bareng suami.. pokoknya cek dulu semuanya.

2)Jangan panik. this is most important. Otak manusia dibuat dengan setting ketika mendengar kata “kecelakaan”, “selingkuh”,”tabrakan”, bagian yang memproses emosi amigdala (hehe semoga belum lupa istilah psikologi) langsung bereaksi. Kita jadi kurang bisa berpikir logis. Count to 10 to deep breath and give time to re-think about the situation.

3) (Kalo kita bisa sama canggihnya dengan si penipu) kata ade gue, better kita mengenali kode tertentu dalam kalimatnya yang kurang make sense. Bisa jadi dia benar dalam menyebutkan nama semua anggota keluarga kita, tapi belum tentu kalimat yang diucapkannya bersinergi satu sama lain. Agak susah menyebutkan contohnya. Tapi kalau memang suara di telpon itu bukan suara yang menghipnotis, coba kita tanya balik dengan pertanyaan yang cuma kita dan orang terdekat yang tahu. Misalnya (kalau dia bilang dia lagi di lokasi kecelakaan) tanya saja pertanyaan : suami saya punya tahi lalat di daerah punggung kiri ga?  Nah.. kalau dia ga bisa jawab, berarti dia bohong dan matikan telponnya.  Ini cuma contoh yang saya kepikiran sekarang.

4) Selalu ajak orang terdekat untuk mendampingi kita (bila kita sudah dalam konteks tertipu dan setuju untuk transfer) dan akan otw ke ATM. Keberadaan orang yang mendampingi diyakini dapat mengurangi efek ketertipuan kita (please open kamus indonesia). dan syukur-syukur membuat kita mencancel transfer uang.

5) Precaution untk seterusnya : Jangan sembarangan memberikan pin ATM, info bank, dll walaupun ke keluarga sendiri. Bukannya ga percaya sama keluarga kita, tapi jaman sekarang penjahat canggih bgt. Pada satu waktu dalam hidup kita, kita pasti pernah mengekspos info pribadi kita. Mana tahu kebetulan ada oknum tdk bertanggung jawab yang berada dekat kita dan mengambil manfaat dari tindakan kita.

That’s it untuk sekilas info sore ini.

-Author (yang masih kaget juga dengar modus ini)-

Kebersihan adalah sebagian dari iman.. tapi imannya siapa?

Saya butuh waktu cukup lama untuk melontarkan topik ini, karena memikirkan banyak orang yang akan tersinggung. Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi saya bisa mengeluarkan uneg-uneg di kepala saya?

Saya dibesarkan dengan ajaran agama Islam, dan sejak kecil sudah diajarkan Hadits ” Kebersihan adalah sebagian dari Iman”. Pelajaran agama mengenai ini selalu diulang-ulang dari mulai SD, SMP, SMU (bahkan waktu di kampus). Buat saya sih, Hadits ini ngelotok banget di pikiran saya. Terlebih lagi saya melihat contoh mama saya yang tidak pernah buang sampah sembarangan dan selalu membawa kantong plastik dalam tas kerjanya. Bagi saya, itupun salah satu perilaku menjaga kebersihan.

Kemudian waktu SD sampai SMU, saya terlempar di lingkungan orang yang sangat tidak senang menjaga kebersihan. Sebut saja, sesama penumpang di angkot/bis kota yang makan siomay setelah itu membuang bungkusnya ke luar jendela bis atau di bawah kakinya, atau teman yang merokok dengan gayanya yang selangit lalu mematikan/menginjak puntung rokok dengan kakinya, atau malah guru PPKn yang di suatu hari yang cerah saat Dharmawisata membuang sampah ke kali di depan mata saya. Duh, what’s wrong with you people?

Masih contoh ekstrimnya adalah teman-teman saya yang aktif dalam kegiatan rohani. Orang-orang yang secara normative lebih rajin ibadah dan membaca kitab suci, mereka juga sering mendengarkan ceramah agama dan selalu membasahi mulutnya dengan kalimat-kalimat Illahi. Intinya adalah orang-orang yang saya sangat hormati dari segi pengetahuan agama. tapi di suatu kesempatan saya sedang kongkow dengan mereka, lagi-lagi saya menemukan mereka membuang sampah sembarangan di jalan. Akh! saya kesal.

Orang-orang sering sekali menasihati saya mengenai agama, tentu saja saya dengan senang hati selalu mendengarkan.  Tapi please deh.. aplikasi perilakunya hanya sebatas ibadah buat diri sendiri sajakah? Memangnya dalam ajaran kita (bukan terbatas pada Islam saja, agama lainnya juga) manusia diajarkan untuk Hanya mementingkan dirinya sendiri? Saya paham sekali bahwa Surga itu adalah reward terbesar yang Tuhan berikan bagi manusia yang berhasil menjalani segala perintahnya. Namun saya juga sadar, orang yang condong hanya rajin ibadah/baca kitab suci tapi lupa bahwa dirinya juga berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan alam itu sama tidak baiknya.

Okay here goes my blabbering.

Saya hidup di Jakarta. Kota yang saya cinta dan benci dengan persentase masing 100%. Cinta karena saya lahir disini dan banyak memori indah yang terekam di benak saya. Benci karena semakin lama manusia yang tinggal di jakarta tidak jelas perilakunya. Sekarang saya tanya : Kebersihan adalah Sebagian dari Iman.. (semua orang di Jakarta pasti beriman dong), tapi imannya siapa?

Apakah tukang sampah yang digaji oleh dinas kebersihan DKI JKT untuk menyapu sekitar jalan protokol?

Apakah cleaning service gedung yang tiap 20menit sekali membuang sampah tisu toilet di wc wanita?

Apakah orang yang bekerja di kementrian Lingkungan Hidup karena tuntutan kerjanya dia harus ramah lingkungan?

Apakah petugas di pintu air manggarai yang sebelum musim hujan tiba harus menyerok sampah yang berkumpul di dekat saluran air?

Ternyata spesifik sekali orang-orang yang beriman.

Dulu pernah ada seorang teman yang sedang naik angkot bersama saya, kemudian setelah turun dia membuang sampah plastik bekas makanannya di depan saya. Saya kaget dan langsung menyuruhnya untuk mengambilnya. Reaksi beliau adalah menolak kemudian bete selama beberapa saat dengan saya. Saya tidak terlalu peduli dengan hal itu. Yang penting misi menjaga lingkungan bisa tercapai. Di lain kesempatan, 1 tahun setelahnya, dia mengajak bicara ” Res, dulu waktu lu marahin gue gara-gara gue buang sampah di jalan itu tuh… setelahnya ada orang yang buang sampah depan gue.. ga tau kenapa gue jadi bete juga.. sorry ya waktu itu gue bete ma lu”. Baguslah kalau memang sadar.

Tapi sebenarnya saya malas beralih peran jadi polisi lingkungan. Wong kita belajar agama kan buat diaplikasiin juga. Masa’ yang gitu aja masih perlu didiktein? Lalu saya ngomong begini ke dia ” Gue lebih bete kalau gara-gara sampah yang kita buang di jalan, terus nyumbat saluran, terus jakarta jadi banjir, terus rumah gue tergenang air, abis itu gue mesti nyerok-nyerok air, ngepel rumah yang notabene baunya minta ampun.. gila.. males banget ga sih?”

Hahaha.. salah ga argumen saya?

for everybody out there … (literally everybody, termasuk orang bermobil mercedes yang masih juga nyampah di jalan) kalau kamu tidak beriman pada Tuhan YMK, silahkan untuk membuat kekacauan dan kekotoran di dunia ini. Masih banyak tempat yang perlu dikotorin biar merata.

Buat kawan-kawan yang beriman/merasa dirinya beriman, tolong jaga kebersihan bukan cuma buat diri sendiri, tapi buat orang lain juga. mungkin kalian pernah nyampah/bakar sampah atau apapun yang tidak earth-friendly di kota lain, tapi jangan pernah pikir bahwa yang kotor cuma area kalian saja. Bumi sudah masuk siaga satu. Ibarat pasien, “mesti masuk ICU”.

Mohon dikaji ulang apakah ajaran agama menghendaki kita untuk berbuat jahat pada alam. Tapi saya tidak akan berceramah, karena ceramah itu tugasnya ahli agama. Untuk lebih jelasnya tanya guru agama masing-masing. Saran dari saya sebagai orang yang pernah belajar Psikologi : “Experience is the best teacher “, jadi coba saja kita tinggal 2 hari di Bantar Gebang atau Leuwigajah. Zaman dulu gas metana akibat reaksi kimia dari sampah-sampah itu pernah meledak, dan membuat longsoran sampah. Akibatnya banyak orang yang tewas.  Apa enaknya meninggal ditimbun sampah?

but then again, kita selalu berkilah (dalam hati tentunya) “Itu terjadi pada mereka, tapi ga mungkin terjadi sama gue”.

Yah.. emang dasarnya kalau ga sadar ya udah.. tapi kalau rumah gue kebanjiran, tolong pel-in yeee..

-Curhat jam 17.18-

Kalau gas bocor, jangan panik!

Sebagai permulaan, saya menulis artikel ini setelah mendengar cerita mengenai kebakaran di dapur tante saya, Nina Martini Yamin. So All credit goes to her.

Rangkuman ceritanya : Tante saya tidak menyadari bahwa klep tabung gasnya bocor dan gas sudah menyebar ke seantero rumahnya. dan untungnya (Terimakasih ya Allah) tante dan om saya dibangunkan lewat mimpi bahwa gas dirumahnya bocor.

Kejadiannya pagi hari sekitar jam 3.30. Jam segitu biasanya orang belum bangun tidur/sudah bangun tapi masih ngantuk/masih mati suri, singkatnya tidak waspada. Tapi kalau bau LPG sudah menyerang, mau tidak mau harus langsung siaga. Hanya saja (konon kata tante saya) orang seringkali panik dan mengambil tindakan salah, makanya yang tadinya hanya gas bocor berubah menjadi ledakan/kebakaran.

Tips dari Tante Nina :

1) Bila sudah mencium gas bocor, langsung cabut selang dan klep gas

2) Buka seluruh jendela dan ventilasi dan biarkan gasnya keluar dari rumah.

3) Biarkan dulu kondisi apa adanya sampai baunya hilang

4) Jangan menyalakan lampu atau barang elektronik lain yang memicu loncatan arus listrik, sebab ini penyebab utama kebakaran

5) Jauhi lokasi gas. kalau perlu ngumpet di kamar atau keluar dari rumah.

6) Yang paling penting adalah : Jangan Panik!!

sebelum ledakan terjadi di rumahnya, tante dan om saya sudah mencabut selang dari tabung gas, dan membuka jendela rumah lebar-lebar. Untungnya saat itu, mereka tidak melakukan kebiasaan mencuci tangan di keran dapur, dan atau menyalakan lampu dapur untuk menemukan lokasi gas (saat kejadian, dapur dalam keadaan gelap gulita).  Setelah itu mereka balik ke kamar tidur di lantai 2. 30-40 menit berlalu barulah tante saya ke kamar mandi untuk wudhu, nah… pas wudhu itulah mesin pompa air otomatis menyala dan memicu ledakan di dapur ( untungnya mereka tidak berada disitu!). Padahal setelah setengah jam diasumsikan gas sudah keluar dari jendela rumah.

Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali kasus ledakan tabung gas, kita mesti extra-waspada. Banyak orang tidak tahu akhirnya menjadi korban. Semoga curhat tante saya dapat memberikan tambahan pengetahuan.

Tengkyu ya Tante Nina

Saya terima tantangannya!

Suamiku selalu membuatku tertantang oleh ucapannya. Misalnya saat belanja di Supermarket, kita sedang memilih Sarden/Makerel kalengan. Saya pasti langsung mendebat, “jangan beli yang ini, Natriumnya terlalu banyak. Lebih baik beli yang ini saja” .. Itu berlangsung sejak pacaran dulu sampai sekarang. By the way, saya termasuk tipe OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) versi bahasa psikologi, yang kelewat sering mencatat detail dari setiap benda yang ditemui. Jaman dulu waktu pertukaran pelajar di Jepang, harga barang yang beda 10-20 yen menjadi amat penting (Soalnya disana, uang receh 1 yen pun bernilai, kalau disini kan Rp 100 ditukar permen, Rp 50 ga ada fungsi) sehingga kebiasaannya terbawa hingga kembali ke Indonesia.

makanya saya sering mencatat apapun itu yang ada di super market (Please deh!), apalagi makanan yang tidak boleh terlalu sering dikonsumsi tapi enak 😦 misalnya sarden. Tapi seiring berjalannya waktu, ingatan saya terhadap AKG (Angka Kandungan Gizi) tiap makanan semakin memudar, padahal waktu kuliah ingatan tajam.

Suatu ketika, saya dan suami sedang belanja di Alfamidi (sorry nyebut merk), dan beliau ingin makan sarden. Saat memasuki tempat makanan kaleng, dia bilang “yang mana yang kata kamu lebih baik?” .. waduh berasa dapat quiz dadakan dari dosen. Terus saya terdiam agak lama, karena lupa. Terus beliau bilang, “mana katanya ingat…coba kamu yang pilih”. Kemudian saya melihat satu persatu kaleng sarden itu..Akh! Rupanya ingatan saya sudah memudar.
“Yah waifu.. ternyata kamu tidak sehafal itu ya..” … Glekk.. Busyet, Gue paling ga demen digituin!!

Akhirnya sejak hari itu, saya bertekad (alah!) untuk kembali melakukan supermarket research. For My sake, and for My family sake.

Honey, I accept your challenge!!